Friday, 18 September 2009



[1]
Now Hollywood wants to make you think they know what love is. But I’m a tell you what true love is. Love is not what you see in the movies. Its not the ecstasy, its not what you see in that scene, you know what I mean? I’m telling you right now, true love is sacrifice. Love is thinking about others before you think about yourself, love is selfless not selfish. Love is God and God is love. Love is when you lay down your life for another, whether for your brother, your mother, your father or your sister, its even laying down your life for your enemies, that’s unthinkable, but think about that. Love is true. Think.

I’ll put you in front of me
So everybody can see
My love, this is my love

I know that I’ll be alright
As long as you are my guide
My love, this is my love

[2]
Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, it always perseveres.
Love never fails. Love is everlasting, its eternal, it goes on and on, it goes beyond time, love is the only thing that will last when you die, but ask the question why? Do you have love?

I’ll put you in front of me
So everybody can see
My love, this is my love

I know that I’ll be alright
As long as you are my guide
My love, this is my love

[3]
There is no greater love than this than he who lays down his life for his friends. Now are you willing to lay down your life for your friends? You’re probably willing to lay down your life for your mother, your father, or your best friends, but are you willing to lay down your life for even those that hate you? I’m going to tell you who did that, the definition of love is Jesus Christ. He is love. The nails in his hands, the thorns in his brow, hanging on a cross for your sin my sins, that is LOVE he died for you and me while we still hated him, that is love. God is true love, and if you don’t know this love, now is the time to know, perfect love.

I’ll put you in front of me
So everybody can see
My love, this is my love

I know that I’ll be alright
As long as you are my guide
My love, this is my love

"LOVE" by Jaeson Ma..
Nice video.. Nice message.. :)

Friday, 4 September 2009

Beberapa waktu yang lalu saya membaca jurnal yang menarik dari American Psychological Association, berjudul "Monopoly Money: The Effect of Payment Coupling and Form on Spending Behavior". Jurnal ini ditulis oleh Priya Raghubir dan Joydeep Srivastava. Keduanya adalah profesor di bidang marketing. Melalui jurnal tersebut, mereka membuktikan bahwa semakin transparan suatu pembayaran (misalnya, membayar dengan uang tunai), maka semakin tinggi "pain of paying" si konsumen. "Pain of paying" adalah rasa tidak nyaman saat seseorang mengeluarkan sejumlah uang yang relatif besar.


Dalam jurnal ini, dituliskan bahwa mereka melakukan beberapa studi perbandingan. Pertama, membandingkan keinginan berbelanja dengan bentuk dan cara pembayaran yang berbeda: menggunakan kartu kredit dan pembayaran tunai. Kedua, membandingkan keinginan berbelanja dengan bentuk pembayarannya saja yang berbeda: menggunakan voucher belanja dan pembayaran tunai.

Dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa: orang-orang cenderung untuk menghabiskan uang lebih banyak saat menggunakan kartu kredit atau voucher belanja dibandingkan jika harus membayar tunai untuk tujuan yang sama, termasuk di dalamnya barang-barang yang memang sering dibeli. Penggantian bentuk pembayaran ini menyebabkan uang menjadi lebih mudah dihabiskan, atau diberlakukan seperti halnya uang monopoli.

Dari studi ini kita bisa mengambil manfaatnya dari dua sudut pandang yang berbeda, yakni sebagai produsen  dan sebagai konsumen. Sebagai produsen, atau lebih tepatnya sebagai penjual, bisa didapatkan sebuah strategi baru untuk meningkatkan penjualan, antara lain: memasang logo kartu kredit/debit di tokonya, memberikan voucher belanja daripada potongan harga langsung, bekerja sama dengan bank untuk memberikan promo tertentu jika melakukan pembayaran dengan kartu kredit untuk barang-barang tertentu, melayani pembayaran secara transfer atau melalui e-banking, dsb. Intinya sih, membuat bentuk pembayaran oleh konsumen semakin tidak "transparan", bukan menggunakan uang tunai, tetapi menggunakan kartu kredit, kartu debit, voucher belanja, dsb, sehingga mengurangi "pain of paying" dan meningkatkan penjualan.

Sedangkan sebagai konsumen, tentunya harus lebih cermat lagi dalam menghadapi promo-promo yang ada di pasar. Kontrol penggunaan kartu kredit ataupun kartu debit harus dilakukan, setidaknya harus tahu berapa besar tagihan atau saldo sekarang sebelum digunakan untuk berbelanja. Dan tentunya, cara pandang terhadap bentuk pembayaran lain yang diberlakukan seperti uang monopoli harus dihilangkan.

Hm.. jadi kepingin main monopoli lagi.. :)

* Picture courtesy of worldofmonopoly.com

Tuesday, 1 September 2009



It's so dark in here, no I can't see the light
Take all the fires on me
It's all my desires, but you just surrender
Take all the pain in your dreams

Langkahku terpejam, titik ku berada
Perlahan arahku memudar
Semu bayangku, cermin tak berujar
Kemana arahku berjalan

Semua tertuju pada bayangku
Saat kau renggut nafas jiwaku
Semua tertuju pada bayangku
Biaskan angkuh diriku

"Kekal", original soundtrack "cin(T)a"
Performed by Homogenic, from album "Epic Simphony" (2002)
Composed By Dina Delyana And Grahadea Kusuf, lyrics by Dina Delyana

--

Musiknya agak-agak eearie.. Perpaduan yang cantik dengan film cin(T)a, berhasil menciptakan nuansa complicated thought.. Ngomong-ngomong soal cin(T)a, film ini saya beri nilai 8.5/10, sukses "menggelitik" logika dan iman penontonnya.. XD



That's why God created love.
So all the differences could be united.

Monday, 31 August 2009



Weekend kemarin, ketika saya pulang ke Cimahi, saya menyempatkan diri untuk memperpanjang SIM C saya yang bulan depan akan habis masa berlakunya. Untuk keperluan ini, saya mengurus semuanya sendiri, ditemani ibu saya, tanpa menggunakan bantuan calo / biro jasa. Dan ternyata, mengurus perpanjangan SIM sendiri secara legal itu tidak susah lho, asalkan kita rajin-rajin bertanya dengan orang-orang di sana. Total biaya yang saya keluarkan untuk perpanjangan SIM tersebut adalah Rp. 80.000 (sepertinya berlaku untuk semua jenis SIM), dan semua urusan beres dalam waktu kira-kira 1,5 jam (ini pada hari Sabtu, mungkin lebih cepat lagi kalau di hari kerja dan datang lebih pagi lagi).

Tuesday, 11 August 2009

There are two sides to every coin. Maksud pepatah Inggris tersebut adalah segala sesuatu bisa diartikan secara berbeda tergantung sudut pandang yang diambil. Dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan, seringkali kita memandang situasi tersebut dari satu sudut pandang saja. Padahal, jika kita mau mencoba untuk melihatnya dari sisi yang lain, kita akan merasakan hal yang berbeda. Hal ini berlaku untuk berbagai hal tanpa terhalang batasan ruang dan waktu.


Dan ternyata hal itu juga berlaku untuk buku-buku best-seller juga... XD. Pantas saja, ketika (akhirnya) saya membaca ketiga buku seri Rich Dad, ada beberapa hal yang janggal secara rasional. Jadi, tidaklah salah kalau saya (atau pembaca lainnya) tidak perlu setuju sepenuhnya, baik terhadap tulisan Kiyosaki melalui seri buku fiksi nya tersebut, maupun tanggapan John T. Reed yang terlalu membabi-buta. Toh, keduanya juga tidak 100% benar. Untungnya, masih ada pesan positif yang bisa kita dapat dari kedua tulisan itu :).

Selamat membaca... ^_^