Acuan Keterlambatan

Pagi ini aku terlambat masuk kuliah pagi (jam 7), yakni kuliah Sistem Informasi. Sebenarnya aku sudah bangun pagi dan mencoba berangkat lebih pagi. Tapi tetap saja, aku berangkat dari rumah jam 6.30. Loh, berangkat dari rumah jam 6.30 kok masih telat ? Ya iya lah, aku tinggal di Cimahi sedangkan kampusku ada di daerah Dago. Setengah jam ? Kalau kuliah malam, bisa saja tidak terlambat :D hehehe.... Mungkin ini sudah jadi kebiasaan "buruk"-ku, berangkat jam 6.30 dengan estimasi waktu perjalanan 40-45 menit, akhirnya tiba di kelas sekitar jam 7.10 - 7.15 (benar-benar memanfaatkan toleransi keterlambatan 15 menit :p). Tapi pagi ini, aku mampir dulu di SPBU Pasteur sekitar 5 menit untuk isi bensin, sehingga tiba di kelas sekitar jam 7.20. Poor me :(. Aku tidak menyalahkan siapa-siapa atas keterlambatan ini. Ini murni kesalahanku. Di tulisan ini, aku cuma mau sedikit membahas acuan keterlambatan yang ditetapkan beberapa dosen di kampusku.

Sepengetahuanku, ada tiga macam acuan keterlambatan yang biasa digunakan oleh beberapa dosen, antara lain :
  • Waktu
  • Dosen yang menggunakan acuan waktu ini biasanya adalah dosen yang disiplin (ingat, hal ini tidak menutup kemungkinan jika dosen yang menggunakan acuan lainnya juga disiplin). Dengan acuan waktu ini, bisa dibedakan menjadi dua tipe lagi :
    • Pertama, dosen yang menetapkan toleransi keterlambatan maksimal bagi para mahasiswanya dan bagi dirinya sendiri, dan toleransi keduanya tersebut berbeda. Biasanya waktu toleransi keterlambatan mahasiswa lebih kecil daripada waktu toleransi keterlambatan dosen (wajar lah ... dosen kan punya otoritas yang lebih tinggi :), umumnya 15 menit untuk mahasiswa dan 30 menit untuk dosen. Kalau telat 15 menit, mahasiswa tidak boleh masuk kelas. Dan kalau dosen telat 30 menit, mahasiswa "berhak" walkout (kecuali kalau ada pemberitahuan tentang keterlambatan atau tepat di luar kelas para mahasiswa tersebut berpapasan dengan dosen yang bersangkutan :).
    • Kedua, ada juga dosen yang menetapkan bahwa waktu toleransi keterlambatan bagi mahasiswa dan dosen adalah sama. Aku sangat salut bagi dosen yang berbuat demikian, karena dengan demikian (menurutku) beliau benar-benar mau menunjukkan teladan bagi mahasiswa.
  • Kedatangan dosen
  • Dengan acuan ini, semua mahasiswa yang datang setelah dosen datang ke kelas dinyatakan terlambat. Bagi dosen yang kedatangannya "terlambat" (misalnya, 30 menit), hal ini tentu "menguntungkan" mahasiswa karena toleransi keterlambatannya menjadi besar, dan sebaliknya (asalkan, waktu kedatangan dosen tersebut konsisten). Namun, jika kedatangan dosen tidak tentu (kadang lebih cepat, kadang lebih lambat), hal ini relatif merugikan mahasiswa. Dan, menurutku hal ini sangat tidak adil sebab dosen yang bersangkutan akan terkesan otoriter (toleransi keterlambatan mahasiswa tidak jelas, sedangkan dosen tidak bisa dikatakan terlambat).
  • Tanpa acuan
  • Bagi yang tanpa acuan, menurutku, dosen tersebut sedang menguji kedewasaan mahasiswanya. Sebagai seorang mahasiswa (yang seharusnya sudah dewasa), tentunya malu jika terus-menerus terlambat atau jika terlambat yang keterlaluan. Biasanya, dosen itu menganggap mahasiswanya sudah dewasa dan tidak perlu diatur-atur lagi. Namun, hal ini tentunya memiliki dampak negatif. Mahasiswa (yang belum memiliki kedewasaan) bisa masuk kelas dengan seenaknya. Hal ini bisa membuat suasana kelas tidak tertib, karena mungkin saja setiap beberapa menit ada mahasiswa yang masuk kelas dan hal ini terus-menerus terjadi sampai akhir jam perkuliahan (apalagi kalau pintunya jelek, pasti bunyi 'ngak..ngik..ngak..ngik' terus :p ... it's so disgusting). Dan, tentunya cara ini tidak mendidik kedisiplinan semua pihak (mahasiswa dan dosen).

Tiga hal diatas merupakan hal yang biasa aku temui di kampus ini. Menurutku, cara yang paling fair yaitu yang menggunakan acuan waktu, meskipun harus ada sedikit penyesuaian dengan waktu dari jam dinding di kelas :D. Meskipun demikian, hal yang terbaik adalah TIDAK TERLAMBAT. Tidak ada cara toleransi keterlambatan yang lebih baik dari sikap tidak terlambat. Semoga kita semua semakin disiplin, serta lebih menghargai waktu dan orang lain.

8 comments :

  1. menurut gw yang terbaik adalah tidak ada toleransi!!krn dari hal kecil gini bisa membangun bangsa lohh!!makanya klo lagi bahas toleransi-waktu di kelas ama dosen gw suka kesel..sebagai orang tepat waktu hal kyak gitu nonsense bagi gw utk dibicarain....hehehe walau gw juga kadang suka telat...

    ReplyDelete
  2. Gw sebenernya juga ngerasa aneh, klo di kelas ada "tawar-menawar" toleransi keterlambatan. Tapi, kalo tidak ada toleransi sama sekali, menurutku sekarang belum tepat saatnya. Bangsa ini (cie... ngomongin soal bangsa nih "-_-) perlu proses pembelajaran.

    Menurutku, solusinya yaitu tetap ada toleransi itu, tapi toleransi itu akan terus berkurang sampai akhir semester perkuliahan, misalnya di awal semester dikasi 15", akhir semester harus bisa 0".

    *kayaknya ada dosen yg sudah kayak gitu deh .. siapa ya ? ... duh, lupa*

    ReplyDelete
  3. Yup. Harusnya tidak ada toleransi keterlambatan. Terlambat ya ga usah masuk. Kalo dikasih toleransi ntar malah minta lebih. Namanya aja manusia. Dikasih 10 menit, mintanya 20 menit. Dikasih 20 menit, mintanya 30 menit. Jadi bikin rugi kan?

    ReplyDelete
  4. *kayaknya ada dosen yg sudah kayak gitu deh .. siapa ya ? ... duh, lupa*

    --> Pa Rinaldi!Bagus juga tuh. Ngajarin disiplin berjenjang.

    ReplyDelete
  5. Sudah waktunya Indonesia mengganti Jam Karetnya dengan Jam Rolex atau Citizen atau Casio.

    ReplyDelete
  6. aneh ya, pas kita di sekolah dulu mana ada yang namanya toleransi terlambat 15 menit...telat ya telat aja...
    pas gw sekolah dulu gw ampir ga pernah telat tapi pas awal2 masuk kul gw jadi sering bgt telat (pernah telat ampe 45 menit ;P)...
    kok udah kuliah jadinya malah kemunduran ya, bukannya kemajuan??
    anyway sekarang gw dah tobat, semester ini gw blom pernah telat...gara2nya sekarang gw berangkat bareng adik gw sih jadinya ga bisa mepet2 (you know him)...

    ReplyDelete
  7. kalo dosen udah ngga bisa menghargai waktu, buat apa dia ngajar? ngga bisa ngasih contoh. (emosi terhadap dosen-dosen tertentu yang bisanya ngomong doang)

    Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
    Dosen telat, mahasiswa ngga usah dateng.

    ReplyDelete
  8. kenapa sh mahasiswa suka telat? ada yg bisa kasi reason nya nga? hehe
    dpt tgs neliti arek2 jam karet nih..
    thx b4

    ReplyDelete