Above Us is not Only Sky

Tadinya sih mau posting in English .. tapi capek juga bikinnya -_-”, lagi gak enak badan sih :p. Ya sudah, in Bahasa aja deh.

Sejak SMA saya sering berpikir bahwa pasti ada banyak orang hebat di luar sana (di luar sekolah saya) yang lebih baik dari saya. Pemikiran ini pun masih sengaja saya tanamkan baik-baik dalam diri saya sampai sekarang. Pemikiran ini awalnya muncul saat saya tidak bisa masuk sekolah unggulan favorit saat SMA (gak perlu sebut merk lah ya ... anak Bandung pasti tau ^_^). Hal ini bukan dikarenakan nilai ujian SMP saya yang di bawah passing grade atau nama saya sudah masuk black list sekolah-sekolah favorit (emang ada ya ? ^^’). Alasan sesungguhnya, saat itu orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk bersekolah di tempat yang jauh dari rumah (sebenarnya gak terlalu jauh juga sih, cuma tiga kali naik angkot =p). Kalau para pemegang saham sudah memutuskan seperti itu, ya saya menurut saja, padahal saat itu saya ingin bersaing dengan orang-orang hebat sebaya saya. Di sekolah non favorit itu, saya tetap berusaha sebaik mungkin untuk bersaing dengan mereka dan orang-orang hebat di luar sana (dalam imajinasi doang sih). Dan, praise God, akhirnya saya bisa tamat dengan hasil terbaik dengan cara yang baik pula (no cheating ;).

Setelah lulus UAN, saya persiapkan diri untuk ujian SPMB. Persiapan ini saya lakukan sendiri di rumah (berbekal sebuah buku super tebal kumpulan soal-soal dari jaman baheula, sejak USM ITB yang dulu banget (bukan angkatan 45), sampai Sipenmaru, UMPTN, dan SPMB ^_^’ ... jelas gak dikerjain semua lah ... bisa mimisan tiap hari ntar :p), ditambah dengan hasrat untuk masuk ke jurusan paling favorit di Indonesia saat itu (gak perlu sebut merk lah ya ... ntar disangka narsis lagi :p). Akhirnya saat pengumuman hasil SPMB, nama saya tertulis di sana bersama kode jurusan paling favorit itu. ^_^ Teman-teman saya di sekolah favorit banyak yang heran ketika saya berhasil masuk jurusan ini. Memang, ini semua karena anugerah dari Yang Di Atas dan faktor keberuntungan (hoki) saja sih. Tapi, hoki juga skill loh ;) (mengutip kata-kata favorit DotA-ers labdas :p).

Di jurusan ini, saya bertemu dengan banyak orang yang memiliki reputasi yang luar biasa. Kebanyakan dari mereka adalah jebolan olimpiade sains, mulai tingkat nasional, regional, sampai internasional (gw? boro-boro internasional ... kota aja gak tembus -_-’ ... huh, siapa sih yang nyuruh gw ikut Fisika ?! ... harusnya tetap di Matematika atau di Komputer saja >_<). Saat kali pertama di kampus ini, saya merasakan aura-aura yang jelas berbeda dengan yang saya rasakan waktu sekolah -_-’ ... aura pejuang, aura pemenang, aura pesaing, aura kreatif, aura individualis, aura oportunis, dan aura-aura lainnya. Awalnya, saya berpikir bahwa saya harus sehebat si A dalam bidang ini, harus sehebat si B dalam bidang itu, dan seterusnya. Pikiran ini muncul dengan sendirinya karena pada dasarnya saya adalah seorang yang akan termotivasi dengan kelebihan orang-orang di sekeliling saya (mungkin mirip sama Goku, makin kuat lawannya, dia akan semakin kuat ... sayangnya, saya gak bisa mengeluarkan jurus kamehameha atau spirit boom :p). Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya sadari bahwa kita harus menjadi diri kita sendiri. Kita diciptakan secara unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang harus kita lakukan adalah mengembangkan diri kita sebaik-baiknya. Begitu juga dengan saya, saya menjadikan orang-orang hebat di sekitar saya itu sebagai motivasi diri sendiri agar tidak merasa diri ini sudah cukup baik tapi harus bisa lebih baik lagi. Saya memang tidak harus menjadi sama seperti mereka, tapi harus bisa lebih baik dari mereka. Loh? Maksudku, tetap menjadi diri sendiri dan berusaha lebih baik lagi :).

Menurut saya, ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan ketika kita tinggal di antara orang-orang hebat. Pertama, kita bisa termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Bagi orang yang berpikiran negatif, mereka mungkin malah akan merasa minder ketika bertemu dengan orang-orang hebat tersebut. Tapi, bagi orang yang berpikiran positif, tentunya mereka akan termotivasi. Jadi, kuncinya adalah “you are what you think”. Kedua, mengingatkan kita bahwa di atas langit masih ada langit. Setidaknya, dengan berada di sekitar orang-orang hebat tersebut, kita tidak akan berpuas diri dengan apa yang kita peroleh saat ini. Dan masih banyak keuntungan-keuntungan lainnya (halah... ini sih sudah bingung mau nulis apa lagi :p).

Sebagai penutup, meskipun sekarang saya sudah berada di lingkungan orang-orang hebat, saya masih tetap berpikiran sama seperti saat SMA. Masih banyak orang-orang hebat yang ada di luar sana, yang jauh lebih baik dari saya ataupun teman-teman saya di sini. Mereka mungkin ada di kampus lain, negara lain, lingkungan lainnya, ataupun Anda yang sedang membaca tulisan ini :). Hal ini juga berguna untuk menetralisir sikap bangga berlebihan yang umumnya sudah tertanam dalam setiap otak mahasiswa di kampus ini (efek samping oskm & osjur nih :p). Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kamu sudah yang terbaik. Above us (is) not only sky.

2 comments :

  1. Iya, di atas kita ada banyak burung yang sudah siap mengeluarkan urin dan zat ekskresi lain dari kloakanya sewaktu kita tidak sigap dan sedang terlena berjalan di bawah rimbunnya pohon Jalan Ganesha. (Catet: yang putih itu urin, kalo ada dark brown/black spots nah itu dia zat ekskresi lainnya yang dimaksud :P)

    Ada ga ada orang yang lebih hebat dari kita, yang pasti kita masing2 sudah diberi talenta olehNya, entah 1, 2, 5, atau malah lebih. Yang terpenting adalah tidak memendamnya begitu saja dan membiarkan talenta itu menjadi sia2.

    ReplyDelete
  2. @berto:
    setuju ... ^_^
    jadi teringat sama ini ...
    1 x 1 = 0
    2 x 2 = 4
    2 x 5 = 11

    ReplyDelete