Kisah 1001 Menara

pagi itu sang dewi datang ke bumi
mencari salah seorang ksatrianya
seorang ksatria yang mampu
menyelesaikan tugas yang diberinya

aku pun datang
sebagai seorang ksatria putih
dengan kuda putihku
lengkap dengan jubah kebesaranku

dan kutatap sang dewi
tapi hanya sinarnya yang terlihat
tubuhnya memancarkan terang menyilaukan
sinar putih yang selalu terpancar

dengan lembut dia berkata
“ksatriaku, buatkan aku 1001 menara
waktumu hanyalah satu musim semi”
lalu dia menghilang kembali ke khayangan

1001 menara dalam satu musim
ah, itu hal yang mudah bagiku
bagi seorang ksatria putih sepertiku
pikirku saat itu dengan penuh percaya diri

musim semi pun tiba
bunga-bunga mulai bermekaran
menambah indahnya suasana di senja itu
saatku berdiam menikmati semuanya

tiap hari kunikmati pemandangan itu
sambil bersantai melepas lelah
atas apa yang kulakukan di musim dingin
yang begitu penuh perjuangan

waktupun beralih dengan cepat
sampai akhirnya kusadari
permintaan sang dewi itu
belum kupenuhi

esok musim semi ini akan berakhir
dan itu saatnya sang dewi akan datang
tapi apa yang telah kuperbuat
nol, tiada yang kuperbuat

ku sadar waktuku tinggal semalam
dan aku harus berjuang dengan keras
untuk mendirikan 1001 menara
dan tidak membuat sang dewi kecewa

di malam yang panjang itu
dengan kekuatan di tangan ini
satu per satu menara kubangun
sampai kudapati tangan ini tak berdaya

tak kuat lagi, aku pun terjatuh
tergeletak dan terkapar karena kelelahan
dalam anganku terlihat 1001 menara
tapi sayang itu hanya angan

dan surya pagi tiba seiring ayam berkokok
lonceng pergantian musim telah dibunyikan
sang dewi pun datang menghampiri
seorang ksatrianya yang tergeletak

aku pun tersadar dan mencoba tuk bangkit
kuhitung satu per satu menara yang ada
1, 2, 3 .... .... 652, 653, 654
hanya enam ratus lima puluh empat

bukan seribu satu, seperti yang diminta
bukan seribu, seperti dalam dongeng itu
hanya enam ratus lima puluh empat
bahkan dua per tiganya pun tak sampai

aku memang seorang ksatria putih
tapi seperti ksatria lainnya, aku juga manusia
yang tak luput dari kelemahanku
dan kini ku telah mengecewakan dia

sang dewi pun berpaling dariku
tanpa mengucapkan sepatah kata pun
aku sadar dia telah kecewa padaku
tak kulihat lagi senyumnya yang menawan

ku hanya bisa terdiam menyesal
sambil terkapar di dalam tubuh yang lemah
lemah lelah setelah perjuangan malam itu
tapi, menyesal saja tidaklah cukup

entah berapa lama ku terlelap
tertidur dengan segala laraku
sampai akhirnya ku terbangun
dan kulihat sebuah senyuman yang manis

apakah ini senyuman sang dewi
oh bukan, senyum ini dari seorang bidadari
senyum yang manis dan menyejukkan
sambil tersenyum ia berkata “semangat ya”

senyum itu, kata-kata itu
memberiku semangat yang baru
tuk memulai lagi kehidupan ini
dan tak lagi meratapi masa lalu

aku pun bangun dan tersadar
dan berharap semua ini hanyalah mimpi
tak kuingat lagi kisah 1001 menara itu
namun ada satu yang tersisa di benakku
senyum bidadari itu ...

-anggriawan-

4 comments :

  1. Duh, lagi sakit kepala & demam tinggi kok malah sempat-sempatnya bikin puisi ini >_<. Harusnya terkapar di tempat tidur, eh malah duduk di depan komputer X_X. Hasilnya seperti ini lah.

    ReplyDelete
  2. copy paste dari mana? heheee... :)>-
    or, does love really have the power to change ordinary people into poets? I wonder...

    ReplyDelete
  3. aduuhhh yg lagi kasmaran... jadi romantis gini.. hehehe jangan dihentikan romantisnya...

    ReplyDelete
  4. @roberto:
    copy-paste? enak aja!!
    puisi ini hasil 'penglihatan' pas lagi demam hari ke-1 dan ke-2 :p

    @xuxu:
    hei.. ini bikinnya pas lagi demam... ;)
    emang romantis ya?

    ReplyDelete