Semangat Belajar

Tadi malam gw iseng baca koran "PR" di rumah. Niat awalnya sih, untuk cari informasi temu alumni SMA yang katanya diiklankan di koran itu. Saat sedang membaca halaman utama koran itu, gw menemukan judul yang cukup bikin kaget ... "Jalan Kaki 7 km untuk Sampai ke Sekolah". Berikut cuplikannya:

APEP Nurhalim (15), pelajar kelas VII SMP Negeri Jelegong, Kec. Cidolog, Kab. Ciamis, setiap pagi harus bangun pukul 4.00 WIB. Jika sampai telat bangun, dipastikan bakal terlambat masuk sekolah.

Jarak tempuh yang cukup jauh antara sekolah dan kampung halamannya, memaksa Apep berangkat dari rumah pukul 5.00 WIB. Selama 2,5 jam, Apep harus berjalan kaki sepanjang 7 km lebih, agar bisa sampai ke sekolah. Rumahnya berada di Desa Margajaya, Kec. Pamarican atau masih tetangga desa dengan Jelegong yang dibatasi oleh pegunungan.

Bukan hanya Apep yang harus berjuang keras agar bisa sekolah di jenjang SMP. Dari desanya, ada 27 teman Apep yang bersama-sama berjalan kaki, naik turun gunung, lalu melintasi dua sungai agar sampai ke sekolah. Di Margajaya sendiri tidak ada SMP. Lokasi paling dekat ya di Jelegong ini.

Rekan Apep yang menjadi teman seperjalanan antara lain Yuli, Dede Nia, Purkon, Emah, Agus, Deni, Asep Supena, Usup, dan Supratman. "Biasanya, kami berangkat bareng dari Margajaya ke sekolah. Kalau hari masih gelap, kita membawa senter untuk bisa menerangi jalan," kata Apep.

Jarak paling jauh harus ditempuh Deni, Usup, dan Supratman. Ketiganya, harus berangkat lebih pagi lagi, agar bisa bareng-bareng ke sekolah. "Pukul 4.30 WIB, biasanya kita harus sudah sarapan. Seperti mau sahur saja, atau kalau tidak sempat, membawa nasi timbel untuk di makan di jalan," kata Usup.

Apep maupun Usup dan rekan-rekan lainnya dari Margajaya, terpaksa berjalan kaki menelusuri jalan desa, karena tidak ada angkutan umum. Dari sana, mereka harus menyeberangi dua buah sungai yaitu Sungai Cigerentel dan Cipelah. Jika tidak ada hujan, untuk melintasi dua sungai itu tidak ada masalah karena kedalaman sungai dengan lebar 17 meter itu, kurang lebih 30 cm.

Perjalanan yang paling melelahkan yaitu di daerah Cadas Ngampar sebelum masuk ke daerah Jelegong. Di daerah itu, kalau berangkat ke sekolah, mereka harus menaiki tanjakan yang panjang dan curam. "Lelah sekali, tapi itu yang saya lalui dengan teman-teman agar bisa sekolah," kata Deni.

Anak-anak ini biasanya menempuh waktu selama kurang lebih 2,5 jam untuk sampai ke sekolah atau setiap harinya mereka berjalan kaki lima jam dengan jarak 14 km lebih. Jika di antara mereka ada yang berangkat kesiangan, terpaksa harus lari saat berangkat.

"Tapi, kalau hujan deras terjadi di daerah itu, mereka biasanya tidak sekolah. Kita juga maklum, karena mereka tidak bisa menyeberang sungai. Kita juga merasa kasihan, tapi tidak bisa berbuat banyak," kata Kepala SMPN Jelegong Uju Relis kepada "PR", Senin (12/3).

Jumlah pelajar yang berasal dari Margajaya sebanyak 27 orang, mulai dari kelas VII hingga kelas IX. Mereka itu, kata Uju Relis, harus berjalan kaki setiap hari 14 km, bahkan yang berasal dari Kampung Sindang Malang, Desa Margajaya, lebih jauh lagi. Biasanya, murid-murid dari Desa Margajaya ini, tiba di rumah kira-kira pukul 15.30 WIB.

Untuk itu, pihak sekolah menerapkan kebijakan masuk kelas pukul 7.30 WIB agar murid-murid dari Margajaya, tidak kesiangan. "Kalau sekolah dimulai pukul 7.00 WIB anak didik kami yang dari Margajaya harus berangkat lebih pagi lagi. Kasihan, makanya saya ambil kebijakan mulai masuk kelas pukul 7.30 WIB. Sedangkan sekolah bubar pukul 12.40 WIB," kata Uju.

Memang tidak semua murid dari Desa Margajaya ini bisa bertahan hingga lulus sekolah. Di antara mereka ada juga yang akhirnya keluar sekolah karena perjalanan panjang melelahkan yang harus mereka tempuh untuk bisa sekolah. Seperti tahun ini, ada dua pelajar putri yang mundur karena kecapaian dan memilih masuk pesantren.

Bagi Apep, Deni, ataupun Emah, perjalanan panjang yang ditempuhnya adalah perjuangan yang mesti dilakukan, agar bisa tamat sekolah hingga SMP. Bahkan, mereka ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. "Memang capai, tapi saya tetap ingin sekolah," kata Apep.

Ketua DPRD Kab. Ciamis, Jeje Wiradinata, yang meninjau sekolah itu mengatakan, perjuangan anak Margajaya luar biasa. Di era sekarang ini, tidak banyak anak-anak yang harus berjuang keras seperti jalan kaki sepanjang 7 km menuju sekolahnya. "Saya berharap semangat anak-anak ini tidak putus. Ke depan di Margajaya mesti ada SD satu atap dengan SMP. Karena kalau tidak salah, di daerah itu ada tiga SD. Nanti, di salah satu SD itu ada SMP satu atap yang bisa menampung lulusan dari sekolah itu dan sekitarnya, sehingga, semua anak lulusan SD di Margajaya bisa melanjutkan ke SMP. Kalau melihat kondisi sekarang, tentu tidak mungkin semua lulusan dari SD Margajaya melanjutkan ke SMP, karena jaraknya jauh sekali," kata Jeje. (Undang Sudrajat/"PR")***


"Pikiran Rakyat" 14 Maret 2007

Luar biasa banget usaha yang dilakukan anak-anak itu. Demi bisa bersekolah, mereka rela jalan kaki 7 km selama 2,5 jam! Untuk pulang-pergi, maka per harinya mereka berjalan sepanjang 14 km selama 5 jam!! Dan, wow .... ini mereka lakukan setiap hari!!!

Gak tau harus ngapain .... gw cuma bisa berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi mereka dan membangun sarana transportasi di desa itu. Dengan transportasi yang memadai, tentunya mereka akan lebih kondusif untuk belajar saat tiba di sekolah. Masa' sih Bupati Ciamis atau pemda setempat tega untuk tidak melakukan apa-apa setelah membaca berita ini ... engga' kan, secara mereka pasti pernah sekolah juga <_<.

Selain itu, gw juga bertanya pada diri sendiri, bagaimana dengan semangat belajar gw? Apakah gw yang sudah diberi kemudahan dari Yang Di Atas, punya semangat belajar yang seperti itu?? Semoga hal di atas bisa jadi bahan refleksi bagi kita semua, termasuk saya .....

6 comments :

  1. ya ampun 'nggri, gue sempet dengan bodohnya mengagumi elo karena gue kira lo ngetik semua berita itu manually.

    Untung gue sangsi, dan untung lo kasih link-nya di bawah. hahaha.

    memang mengharukan ya semangat belajannya. Sementara anak2 yang lebih beruntung dari mereka malah gak bersyukur. dasar manusia.

    ReplyDelete
  2. Luar biasa..
    Gw jadi malu karena ke kampus cukup guling-guling. Itupun kadang-kadang bolos kuliah.

    ReplyDelete
  3. Makanya yang semangat menempuh semester 6. Ntar dikasih tugas yang bejibun sama asisten-asisten tercinta deh :p

    ReplyDelete
  4. iya sih w sadar ilmu toh pentink bgt!
    Tapi biasanya w sadarnya sekarang doang, pas disekolah byk masalah yg membuaty males : gurunya lah , temennya lah, BAYARAN SEKOLAH YANG MAKIN MAHAL LAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!

    ReplyDelete
  5. @cepti:
    Apakah sedemikian parahnya kah guru-guru dan teman-teman Anda, serta mahalnya uang sekolah Anda, sehingga Anda merasa wajar jika malas belajar?

    Semoga bukan sekedar cari-cari alasan.. :)

    ReplyDelete