Monopoly Money

Beberapa waktu yang lalu saya membaca jurnal yang menarik dari American Psychological Association, berjudul "Monopoly Money: The Effect of Payment Coupling and Form on Spending Behavior". Jurnal ini ditulis oleh Priya Raghubir dan Joydeep Srivastava. Keduanya adalah profesor di bidang marketing. Melalui jurnal tersebut, mereka membuktikan bahwa semakin transparan suatu pembayaran (misalnya, membayar dengan uang tunai), maka semakin tinggi "pain of paying" si konsumen. "Pain of paying" adalah rasa tidak nyaman saat seseorang mengeluarkan sejumlah uang yang relatif besar.


Dalam jurnal ini, dituliskan bahwa mereka melakukan beberapa studi perbandingan. Pertama, membandingkan keinginan berbelanja dengan bentuk dan cara pembayaran yang berbeda: menggunakan kartu kredit dan pembayaran tunai. Kedua, membandingkan keinginan berbelanja dengan bentuk pembayarannya saja yang berbeda: menggunakan voucher belanja dan pembayaran tunai.

Dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa: orang-orang cenderung untuk menghabiskan uang lebih banyak saat menggunakan kartu kredit atau voucher belanja dibandingkan jika harus membayar tunai untuk tujuan yang sama, termasuk di dalamnya barang-barang yang memang sering dibeli. Penggantian bentuk pembayaran ini menyebabkan uang menjadi lebih mudah dihabiskan, atau diberlakukan seperti halnya uang monopoli.

Dari studi ini kita bisa mengambil manfaatnya dari dua sudut pandang yang berbeda, yakni sebagai produsen  dan sebagai konsumen. Sebagai produsen, atau lebih tepatnya sebagai penjual, bisa didapatkan sebuah strategi baru untuk meningkatkan penjualan, antara lain: memasang logo kartu kredit/debit di tokonya, memberikan voucher belanja daripada potongan harga langsung, bekerja sama dengan bank untuk memberikan promo tertentu jika melakukan pembayaran dengan kartu kredit untuk barang-barang tertentu, melayani pembayaran secara transfer atau melalui e-banking, dsb. Intinya sih, membuat bentuk pembayaran oleh konsumen semakin tidak "transparan", bukan menggunakan uang tunai, tetapi menggunakan kartu kredit, kartu debit, voucher belanja, dsb, sehingga mengurangi "pain of paying" dan meningkatkan penjualan.

Sedangkan sebagai konsumen, tentunya harus lebih cermat lagi dalam menghadapi promo-promo yang ada di pasar. Kontrol penggunaan kartu kredit ataupun kartu debit harus dilakukan, setidaknya harus tahu berapa besar tagihan atau saldo sekarang sebelum digunakan untuk berbelanja. Dan tentunya, cara pandang terhadap bentuk pembayaran lain yang diberlakukan seperti uang monopoli harus dihilangkan.

Hm.. jadi kepingin main monopoli lagi.. :)

* Picture courtesy of worldofmonopoly.com

4 comments :

  1. Hey this is an interesting study. Thanks for sharing. :) Kebetulan memang sedang ingin menulis hal serupa.

    ReplyDelete
  2. jurnalnya mungkin menggunakan studi di amerika dengan sampel konsumen amerika juga. tapi fenomena yang sama sebenarnya berlaku juga di indonesia, karena kadang-kadang kartu kredit dianggap sebagai penghasilan tambahan, bukan sebatas alat pembayaran. hahaha. terima kasih tulisannya.

    ReplyDelete
  3. Inget masa kecil ya bro ... ahaha
    pegang banyak duit ... walaupun duit2an ... :P

    ReplyDelete
  4. untuk tulisan yang di cetak tebal, saya setuju banget ... pake kartu kredit emang membuat kita lupa diri ... hehehe

    ReplyDelete