Start With Why

People don't buy what you do; people buy why you do it.

Dalam sebuah TED Talk, Simon Sinek mempresentasikan ide sederhananya, bahwa untuk menghasilkan dampak yang besar, segala sesuatu itu harus dimulai dari "mengapa". Ide ini ia modelkan dalam sebuah golden circle: Why - How - What.

Golden Circle: Why - How - What

Kebanyakan dari kita bertindak, dari luar (what, how) ke dalam (why). Hal ini membuat kita berfokus pada hasil atau proses saja, tanpa mempedulikan alasan mengapa kita mengerjakan sesuatu. Adapun kita bisa bertindak dengan arah sebaliknya, dari dalam (why) ke luar (how, what). Pikirkan dulu mengapa kita perlu mengerjakan sesuatu, baru kemudian fokus tentang bagaimana proses dan hasilnya.

Konsep sederhana ini (mulai dengan "mengapa") menarik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di pekerjaan, misalnya, kalau kita mulai dari "apa" atau "bagaimana", kira-kira hasilnya begini: Saya punya sebuah project. Karena project ini adalah order langsung dari headquarter, maka saya harus mengerjakannya sebaik-baiknya. Untuk mengerjakannya, saya buat schedule lengkap dengan milestone kapan saya harus menyelesaikan tiap-tiap bagian. Ternyata, projectnya susah. Beban yang harus dikerjakan jadi relatif sangat besar jika dibandingkan dengan waktu pengerjaan. Akhirnya, saya bersusah-payah setengah mati, ironisnya, tanpa menyadari mengapa saya melakukan semua itu.

Sekarang bagaimana kalau dibalik, kita mulai dari "mengapa", kira-kira begini: Saya punya sebuah project, order langsung dari headquarter. Saya perlu mengerjakannya dengan sebaik-baiknya untuk meyakinkan para bos besar bahwa saya dan rekan-rekan kerja saya punya kemampuan untuk menyelesaikan project apapun. Kalau mereka sudah percaya, pasti akan makin banyak project yang kami dapat, sehingga hal ini bisa menambah lapangan pekerjaan di tempat ini, apalagi kalau hasil dari research saya dan teman-teman bisa diproduksi secara massal di tempat ini. Akhirnya, sesusah apapun projectnya, ada motivasi tambahan yang saya rasakan karena menyadari mengapa saya harus mengerjakan semua itu.

Seringkali kita kurang banyak bertanya "mengapa". Mengapa saya perlu melakukan hal itu? Mengapa saya tetap bekerja di tempat ini? Mengapa saya harus menggapai cita-cita saya? Why does it matter? Is it that important? Mungkin sekarang saatnya introspeksi diri, meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang fundamental: mengapa.





"And it's those who start with "why" that have the ability to inspire those around them." - Simon Sinek

5 comments :

  1. i don't like this guy. he looks very annoying. :P

    ReplyDelete
  2. @roberto: never judge a person by his/her look :p

    ReplyDelete
  3. hahahah....kadang udah bisa nyampe WHY nggri, tapi pas udah HOW itu yg susah merealisasikannya, karena ga tahu caranya gimana :D

    ReplyDelete
  4. @ester: inget pepatah lama aja.. when there is a will, there is a way ^^

    ReplyDelete
  5. Is it a family car, a sports vehicle or a car planned to get used
    more for off-road adventures payday Loans the short term loans are given on risk
    for the borrowers without ever needing any collateral
    security.
    my site - payday Loans

    ReplyDelete